Rabu, 28 Mei 2014

7 Fakta Film “300: Rise of an Empire”


Di luar prediksi, “300: Rise of an Empire” (2014) yang hadir delapan tahun sejak film pertamanya dirilis ternyata ditunggu oleh cukup banyak orang dan berhasil menjadi juara di tangga film box office pada minggu pertamanya. Karena ditangani oleh orang-orang yang sama, film besutan Noam Murro ini punya gaya dan cerita yang masih sangat dekat dengan film “300” (2006). Selain itu, sama seperti pendahulunya, film yang dibintangi Sullivan Stapleton dan Eva Green ini banyak melibatkan CGI dan diperankan oleh sekumpulan aktor yang wajib mengikuti latihan berat demi mendapat perut six pack. Ada cerita unik apa lagi yang hadir di belakang pembuatan film ini? Berikut adalah sepuluh trivia film “300: Rise of an Empire” yang dikutip dari bagusseven.blogspot.com : 

1. Hanya Ada Satu Artemisia Para pembuat film “300: Rise of an Empire” merasa sangat beruntung karena Eva Green dengan senang hati menerima tawaran mereka untuk berperan sebagai Artemisia sang komandan angkatan laut Persia. Seperti yang sudah dikatakan oleh para produsernya, Green memang adalah satu-satunya aktris yang mereka pertimbangkan untuk peran ini. Selain Green, mereka tidak punya cadangan lain.“Kami pertama kali bertemu dengan Eva untuk peran Gorgo bertahun-tahun yang lalu. Kami akhirnya memilih Lena Headey. Eva adalah aktris yang sangat luar biasa, dan tidak ada aktris lain di luar sana yang seperti dirinya. Dia adalah satu-satunya orang yang kami pertimbangkan untuk peran ini [Artemisia]. Saya tidak tahu apa yang akan kami lakukan kalau saja ia menolaknya. Saya tetap tidak bisa membayangkan ada orang lain yang bisa memainkan peran ini! Ia sangat menarik dan menguasai layar dalam setiap peran yang dilakoninya. Kami benar-benar menginginkannya dan mengirimkan naskah tersebut padanya, dan untung saja ia menerimanya tawarannya,” kata salah seorang produsernya, Bernie Goldman, pada Movie Fanatic. 

2. Noam Murro Meski kembali berada di belakang layar sebagai penulis naskah dan produser, Zack Snyder tidak dapat menyutradarai sekuel ini karena punya komitmen untuk mengerjakan “Man of Steel” (2013). Keputusan untuk mencari sutradara lain sebenarnya cukup berat, tetapi Deborah Snyder yang pernah bekerja dengan Noam Murro untuk membuat sebuah iklan televisi di Toronto kemudian merekomendasikan sutradara pemenang sutradara terbaik di ajang Directors Guild of America Awards tahun 2004 dan 2012 ini. Snyder akhirnya yakin kalau Murro adalah orang yang tepat karena visi dan presentasinya mengingatkannya pada saat ia dulu membawakan ide tentang “300” pada studionya untuk pertama kali. 

 3. Bukan Adaptasi Langsung Walaupun dalam promonya, “300: Rise of an Empire” disebut sebagai film adaptasi dari novel grafis Frank Miller yang berjudul “Xerxes”, secara teknis film ini bukan benar-benar adaptasi karena hanya sebagian idenya saja yang datang dari Miller. Selain itu, “Xerxes” sendiri sampai sekarang belum dipublikasikan. Ceritanya sendiri pun mungkin akan berbeda dengan filmnya karena naskah filmnya sudah lebih dahulu dibuat sebelum kisah dalam novel grafisnya dirampungkan. 

4. Lautan Palsu Meski menghadirkan adegan perang di laut, seluruh adegan film “300: Rise of an Empire” sebenarnya disyuting dalam ruangan. Hanya ada segelintir adegan yang benar-benar dilakukan dalam air. Sisanya? Laut yang Anda lihat dalam film seluruhnya merupakan ciptaan tim VFX dari Scanline. Tentu saja, menghasilkan efek air laut yang natural sekaligus dramatis jelas bukan tugas mudah. Apalagi, film “300: Rise of an Empire” punya patokan gaya yang sangat khas.“Tujuan kami adalah untuk membuat sesuatu yang selaras dengan dunia dalam filmnya yang punya gaya yang sangat kental, jadi kami tidak ingin airnya terlihat terlalu realistis. Kami ingin memastikan bahwa lingkungannya punya perilaku yang fantastis, dan ketika kami sudah menetapkan bagaimana gaya yang akan digunakan, ada banyak pembuatan simulasi tingkat lanjut dan hitung-hitungan untuk mengimplementasikannya. Ini merupakan sebuah tantangan teknis yang besar,” terang Bryan Hirota, supervisor VFX dari Scanline. 

 5. Syuting dalam Ruangan Syuting film “300: Rise of an Empire” seluruhnya dilakukan dalam sound stage berlatar green screen di studio Nu Boyana yang berlokasi di luar kota Sofia, Bulgaria. Selain memakai green screen, set-set praktis seperti kapal-kapal perang kayu Yunani serta kapal perang Persia yang berwarna hitam juga dibangun di dalam studio ini. Untuk menyempurnakan tampilannya dan memperbanyak jumlah armada Yunani dan Persia, kapal-kapal tersebut ditambahkan efek digital untuk membuatnya terlihat seperti kapal yang layak digunakan berlayar.Sebagian besar air laut yang muncul dalam film ini diciptakan oleh Scanline. Tetapi, untuk adegan jarak dekat di mana para aktornya perlu benar-benar basah, film ini disyuting di tangki-tangki air yang dibangun di Warner Bros. Studios Leavesden di London. Sisa adegan yang tidak melibatkan set praktis semuanya dibangun secara digital, seperti istana Xerxes, juga pemandangan alam Athena dan Sparta. 

6. Meminjam Peralatan “Gravity” Ada banyak adegan menantang dalam film “300: Rise of an Empire”. Tetapi, saat ditanya adegan apa yang paling susah dieksekusi oleh sang sutradara, Murro pun menunjuk adegan berkuda yang tampil menjelang akhir film. Saking susahnya, ia pun harus meminjam peralatan yang dipakai oleh film “Gravity” (2013) yang sama-sama film Warner Bros.“Adegan dengan kuda sangat rumit untuk disyut. Ketika saya melihatnya sekarang, saya heran bagaimana kami bisa melakukannya. Ini adalah sesuatu yang rumit karena ini memang hanya satu take. Minggu pertama persiapannya dihabiskan untuk menciptakan adegannya dalam satu take. Kami menggunakan beberapa teknik dan peralatan dari “Gravity” untuk membuatnya. Ini adalah adegan yang sulit dibuat karena ada air, hewan-hewan, dan hal-hal lain di sekitarnya,” kata Murro dalam wawancaranya denganGofobo. 

7. Salome Noam Murro mengakui bahwa dirinya dibesarkan dalam keluarga yang menyukai seni klasik. Karena itu, salah satu hal yang paling disukainya adalah opera. Ketika menonton film “300” (2006) untuk pertama kali, Murro terpesona dengan kualitasnya yang mirip sajian opera. Ia pun bersyukur karena dalam sekuelnya ini, ia diundang untuk berkontribusi dalam sebuah kisah yang dikaguminya.Tak lupa dengan akarnya, Murro ternyata memasukkan unsur opera dalam film ini. “Salome”, pertunjukan opera yang pernah dilihatnya saat remaja, meninggalkan bekas yang cukup dalam di ingatannya. Karena itu, ia menggunakan salah satu adegan terkenalnya sebagai referensi film ini. “Ada adegan dalam filmnya di mana Eva Green memenggal kepala orang dan mencium bibirnya – itu adalah kutipan langsung saya dari Salome!” kata Murro pada Toronto Sun.

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates